Selasa, 18 Maret 2014

BEM FMIPA UNTAD GELAR MIPA FAIR

PALU – Dalam upaya untuk  merealisasikan program kerja tahunan BEM FMIPA UNTAD menggelar MIPA FAIR 2014, Senin (24/02). Kegiatan yang dibuka di Media Center UNTAD ini di gelar selama seminggu di lingkungan Fakultas MIPA dan lapangan TVRI SULTENG.

Kegiatan yang diadakan sebagai ajang perkenalan FMIPA UNTAD ke masyarakat sekaligus kompetisi bidang akademik dan ekstrakulikuler bagi siswa dan mahasiswa ini berbeda dari tahun – tahun sebelumnya, tahun ini MIPA FAIR lebih mendekatkan para siswa dan mahasiswa ke dunia akademik yang tentu saja dengan konten kegiatan yang juga diperbanyak dan secara kualitas ditingkatkan.

Kegiatan MIPA FAIR tahun ini bertujuan menyatukan visi dan presepsi mahasiswa FMIPA UNTAD tentang peran dan posisi fakultas mipa dalam upaya pendidikan kualitas pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam di Indonesia, mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan disiplin ilmu yang ada dengan dasar dan landasan matematika dan ilmu pengetahuan alam dan megupayakan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat serta  menghargai budaya nasional dan menjadikan sarana bagi banyak pihak untuk menggugah kepedulian terhadap pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi.
”bagi sebagian orang awam, ilmu sains menjadi momok yang menakutkan anggapan ini sudah sangat melekat bahkan sudah sejak menginjak usia sekolah. Beragam rumus dan pembuktian menjadi fenomena tersendiri  dalam ilmu sains. Akan tetapi, bukan berarti bahwa ilmu sains tidak lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, justru ilmu sains adalah ilmu dasar yang mana prinsip-prinsipnya banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan oleh berbagai cabang ilmu lainnya” ujar Chris Indra Cahya selaku ketua panitia dalam pembukaan MIPA FAIR.

Kegiatan yang merupakan agenda tahunan dari Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA ini mengusung beberapa agenda kegiatan yaitu Seminar nasional, expo, festival seni, Latihan Karya Tulis Ilmiah, Pidato bahasa inggris, Blog contest, Bakti sosial, Lomba ceramah, Karigrafi dan poster islami yang mengundang antusias bukan hanya dari kalangan mahasiswa tetapi juga dari para pelajar.

Tujuan lain dari kegiatan MIPA FAIR tahun ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Dekan Fakultas MIPA Drs Abudullah, M.T yaitu sebagai ajang memperkenalkan eksistensi fakultas MIPA yang keberadaanya baru menginjak usia ke tujuh tahun di Universitas Tadulako maupun di Provinsi Sulawesi Tengah.

Gubernur Sulawesi Tengah yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada lembaga eksekutif mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan FMIPA atas dilaksanakannya pameran yang terkait dengan ilmu pengetahuan alam yang dari kegiatan ini akan memberikan kemajuan dalam hal ilmu pengetahuan alam .

Dengan mengangkat tema umum “jadikan sains sebagai ideologi masa depan”,  diharapkan semakin mempertegas sains sebagai ilmu dasar yang wajib dijadikan ideologi bagi orang-orang yang khususnya bergelut dalam dunia sains. 

BEM FMIPA UNTAD ADAKAN SEMINAR NASIONAL

Palu - Berangkat dari pentingnya penanaman hard skill dalam bidang  Information Technology (IT) maka BEM FMIPA UNTAD mengadakan seminar nasional yang merupakan dari rangkaian MIPA FAIR 2014 dengan tema ’’The Miracle of Science in Information Technology Era”  yang bertempat di Media Center Universitas Tadulako pada senin (24/2).

Tujuan dari terselenggaranya seminar nsional ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai pentingnya Technology Information (IT) di masa kini, “Teknologi lahir karena adanya sains dan keduanya tidak dapat terpisahkan. Teknologi dapat menciptakan berkembangnya informasi. Saat ini kita berada di era modern, dimana teknologi dan informasi begitu cepat berkembang” ujar ketua panitia pelaksana pada pembukaan seminar nasional.

Seminar nasional yang merupakan salah satu agenda dalam kegiatan MIPA FAIR 2014 ini mengundang beberapa narasumber  yaitu Prof. Dr. Ir. Joko Lianto Buliali M.Sc yang merupakan kepala robotica ITS, Dr. Darmaji S.Si, MT yang merupakan sekretaris pusat riset sains ITS dan Sekretaris Jurusan Tehnik Informatika UNTAD  Yazdi Pusadam, S.Kom.

Dalam pembahasan seminar nasional ini, lebih spesifik mengarah kepada Security System atau keamanan komputer dan Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Dengan berlangsungnya kegiatan seminar nasional ini diharapkan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya teknologi di masa kini dan dapat diaplikasikan untuk peningkatan sumber daya manusia dalam bidang teknologi. 

PEMANFAATAN KULIT JERUK BALI (Citrus maxima) DAN SERAI (Cymbopogon nardus) SEBAGAI BAHAN DASAR MAT OBAT NYAMUK ELEKTRIK YANG AMAN BAGI KESEHATAN

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
PEMANFAATAN KULIT JERUK BALI (Citrus maxima) DAN SERAI (Cymbopogon nardus) SEBAGAI BAHAN DASAR MAT OBAT NYAMUK ELEKTRIK YANG AMAN BAGI KESEHATAN
BIDANG KEGIATAN :
PKM GAGASAN TERTULIS



Diusulkan Oleh :
Andi Aldi Matoro Putra       G 401 11 004  angkatan 2011
Muhammad Akhsa              G 401 11 010  angkatan 2011
Putri Suria Ningsi                 G 401 11 043  angkatan 2011




UNIVERSITAS TADULAKO
KOTA PALU
2014

RINGKASAN
Aedes adalah salah satu genus nyamuk yang sering menimbulkan masalah kesehatan. Genus Aedes merupakan vektor biologis dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) (Anonim, 2005). Pemberantasan vektor nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan dengan cara menggunakan atau tanpa menggunakan insektisida. Penggunaan insektisida yang berlebihan dan berulang-ulang dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan yaitu matinya musuh-musuh alami, pencemaran lingkungan dan timbul keracunan pada manusia dan hewan ternak. Saat ini, obat nyamuk elektrik menjadi salah satu pilihan masyarakat. Namun faktanya, obat nyamuk bakar masih mendominasi dengan persentase 54% (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 1973). Kandungan zat aktif dari obat nyamuk bakar terdiri atas diklorvos, propoxuran (karbamat) serta diethyltoluamide. Sementara kandungan zat aktif dalam mat obat nyamuk elektrik adalah D-aletrin (40mg/mat) dan transflutrin (3mg/mat).
Tujuan dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Gagasan tertulis ini adalah memanfaatkan kulit jeruk bali (Citrus maxima) dan serai (Cymbopogon nardus) sebagai bahan dasar pembuatan mat obat nyamuk elektrik.
Pada kulit jeruk terdapat minyak atsiri yang antara lain memiliki kandungan limone (95%), myrcene (2%), noctanal (1%), pinene (0,4%), linanol (0,3%), decanal (0,3%), sabiene (0,2%), geranial (0,1%), neral (0,1%), dodecanal (0,1%), dan sitronela (0,5%) (Adityo Kurniawan, 2008). Kandungan dari serai terutama minyak atsiri dengan komponen sitronelal 32-45%, geraniol 12-18%, sitronelol 11-15%, geraniol asetat 3-8%, sitronelil asetat 2-4%, sitral, kavikol, eugenol, elemol, kadinol, kadinen, vanilin, limonen, kamfen (Andria, 2000). Hasil penyulingan dari serai itu sendiri dapat diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum citronellae, terutama terdiri atas geraniol dan sitronelal yang dapat digunakan untuk menghalau nyamuk (Haris, 1994). Kemudian untuk abu dari daun dan tangkai serai mengandung 45% silika yang merupakan penyebab desikasi (keluarnya cairan tubuh secara terus menerus) pada kulit serangga sehingga serangga akan mati kekeringan (Kardiyan, 2003).
Metode penulisan yang diterapkan oleh penulis dalam gagasan tertulis ini adalah metode penalaran, kemudian merujuk pada hasil penelitian, referensi berbagai literatur dan mengidentifikasi dari berbagai sumber data serta informasi di internet. Adapun langkah dalam pembuatan mat obat nyamuk elektrik ini adalah diawali dengan mencincang kulit buah jeruk bali dan serai sehingga menjadi potongan-potongan kecil. Potongan kulit ditimbang hingga mencapai massa 100g, lalu dihaluskan dengan blender. Untuk pelarutnya digunakan alkohol 70% sebanyak 15 mililiter, air 75 mililiter, dan Solutiogummi arabicum sebagai pengikat. Bubur yang diperoleh itu kemudian dicetak lalu dikeringkan selama 1-3 jam. Dengan demikian mat obat nyamuk elektrik siap digunakan.
Pembuatan mat obat nyamuk elektrik berbahan dasar kulit jeruk bali dan serai ini merupakan alternatif sebagai obat nyamuk yang aman bagi kesehatan ditinjau dari kandungan sitronela, minyak atsiri, lonanol dan geraniol pada bahan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara tropis merupakan tempat subur berkembang biaknya nyamuk. Nyamuk termasuk kelas Insekta, ordo Diptera dan mempunyai banyak famili. Nyamuk berperan sebagai vektor penyakit untuk manusia (Gandahusada S dkk, 2000). Aedes adalah salah satu genus nyamuk yang sering menimbulkan masalah kesehatan. Genus Aedes merupakan vektor biologis dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Fillariasis (Brugia malayi dan Wucheria bancrofti), Yellow fever, Eastern Equine Enchepalomyelitis, California Enchephalomyelitis dan Venezuelan Equine Encephalomyelitis (Anonim, 2005).
Bila dielaborasi lebih jauh, penggunaan insektisida rumah tangga anti nyamuk sebagian besar menggunakan obat nyamuk bakar dan digunakan setiap hari (54%). Selain obat nyamuk bakar sebanyak 19% responden menggunakan dalam bentuk semprot, 17% dalam bentuk oles, 15% dalam bentuk mat elektrik, serta 10% menggunakan dalam bentuk cair dengan listrik (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 2008).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW) tahun 2001, kandungan zat aktif yang terdapat dalam obat nyamuk bakar antara lain diklorvos, propoxuran (karbamat) serta diethyltoluamide. Sementara itu, kandungan zat aktif pada salah satu merk mat obat nyamuk elektrik terdapat D-aletrin (40mg/mat) dan transflutrin (3mg/mat). Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diklorvos atau DDVP bersifat karsinogen, berdaya racun tinggi, dapat merusak sistem saraf, mengganggu sistem pernafasan dan jantung. Sedangkan menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat, Environment Protection Authority (USEPA) dan New Jersey Department of Health, diklorvos berpotensi menyebabkan kanker, menghambat pertumbuhan organ, merusak kemampuan reproduksi. Sementara itu, propoxuran (karbamat) adalah jenis racun kelas menengah dalam bentuk asap yang dapat mengaburkan penglihatan, menghasilkan keringat berlebih, pusing (sakit kepala) dan badan lemah. Dan untuk zat aktif diethyltoluamide (DEET) dapat menyebabkan infeksi kulit, kulit melepuh dan rasa panas pada kulit. Efek samping yang ditimbulkan oleh diethyltoluamide (DEET) sangat tergantung pada daya tahan sensitifitas atau kepekaan kulit pemakai.
Dengan melihat kondisi tersebut, penulis dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Gagasan tertulis ini memilih judul “Pemanfaatan Kulit Jeruk Bali (Citrus maxima) dan Serai (Cymbopogon nardus) Sebagai Bahan Dasar Mat Obat Nyamuk Elektrik yang Aman Bagi Kesehatan”.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis ini adalah untuk memanfaatkan kulit jeruk (Citrus maxima) dan serai (Cymbopogon nardus) sebagai bahan dasar pembuatan mat obat nyamuk elektrik.
1.3 Manfaat
Gagasan tertulis ini diharapkan dapat memberikan alternatif insektisida berbahan dasar alami bagi dunia ilmu pengetahuan, industri, dan masyarakat. Selain itu, gagasan tertulis bermanfaat untuk menciptakan produk mat obat nyamuk elektrik yang aman bagi kesehatan masyarakat.

BAB II
GAGASAN
2.1 Kondisi Kekinian
Anti nyamuk mat adalah produk anti nyamuk yang terdiri dari mat terbuat dari pulp atau bahan lainnya yang mengandung bahan aktif insektisida, dapat ditambahkan stabilisator, bahan yang sinergis, unsur lepas lambat, pewangi dan pewarna. Unsur lepas lambat yaitu unsur yang mengikat dan melakukan slow release atau pelepasan unsur dengan waktu yang relatif lama. Obat nyamuk bentuk mat menggunakan alat pemanas listrik untuk menguapkan bahan aktif dari mat.
Obat nyamuk (insektisida) yang beredar di pasaran semuanya mengandung zat aktif yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Dari alokasi biaya pembelian insektisida rumah tangga per bulan, responden yang mengeluarkan kurang dari Rp 10.000 sebanyak 44%, mengeluarkan antara Rp 10.000 – Rp. 50.000 (54%), dan lebih dari Rp. 50.000 (2%). Dari harga yang relatif terjangkau oleh masyarakat, penggunaan insektisida rumah tangga berbahan dasar kimiawi terlihat menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi setiap harinya (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 2012).
2.2 Solusi Yang Pernah Diterapkan Sebelumnya
Pada penelitian yang dilakukan sebelumnya, menunjukkan bahwa ekstrak air kulit durian efektif sebagai obat nyamuk elektrik. Hal ini disebabkan karena kulit durian mengandung minyak atsiri, flavonoid, saponin, unsur selulosa, lignin serta kandungan pati. Kulit durian mempunyai bau yang sangat menyengat dan tidak disukai oleh nyamuk. Oleh karena itu, efek kandungan tersebut bisa mempengaruhi syaraf pada nyamuk dan akibat yang ditimbulkannya adalah nyamuk mengalami kelabilan dan akhirnya mati (Oktavianingrum, 2007). Namun, dengan berbahan dasar kulit durian dirasa kurang efektif, karena harga untuk buahnya saja lebih mahal daripada jeruk bali. Baunya pun kadang terlalu menyengat, sebagian manusia tidak terlalu menyukai bau tersebut.
Pada penelitian lainnya disebutkan bahwa kulit bitter orange (Citrus aurantium) berpotensi sebagai insektisida (Mwaiko GL,1992). Kandungan limonin pada jeruk dapat dimanfaatkan sebagai larvasida (Jayakapras GK dkk, 1997). Penelitian yang dilakukan oleh Al Dakhil dan Morsy pada tahun 1999 didapatkan ekstrak etanol kulit jeruk lemon, graphefruit dan navel orange mempunyai efek larvasida yang telah dicobakan pada larva Culex pipiens. Salah satu bahan aktif utama kulit jeruk bali (Citrus maxima) yang diperkirakan memiliki efek toksik terhadap larva adalah limonin. Senyawa ini merupakan komponen utama minyak kulit jeruk tetapi terdapat juga dalam minyak atsiri lain. Limonin termasuk jenis monoterpenoid. Senyawa ini dapat bekerja sebagai insektisida atau berdaya racun terhadap serangga (Dakhil MA and Morsy TA, 1999).
Selain penelitian yang disebutkan diatas terdapat pula penelitian lain dalam mengatasi gangguan nyamuk yaitu dengan pemanfaatan tanaman adas. Tanaman adas adalah sejenis tanaman herba tahunan yang dapat tumbuh di dataran tinggi dengan tingkat adaptasi yang tinggi sehingga dapat mudah tumbuh tanpa memerlukan pemeliharaan khusus. Di dalam adas terdapat minyak atsir sekitar 6% diamana memiliki kandungan utama anethol (50-80%), limonene (5%) , fenchone (5%) dan bahan lainnya seperti estragol (methylchavicol), safrol, alpha pinene dan beta myrcene (Rusmin dan Melati,2007). Kandungan anethol pada tanaman ades bersifat repellen (anti serangga) khususnya pada nyamuk sehingga ades jugha dapat dijadiakn lotion anti nyamuk (Grainge dan ahmed,1987). Dengan sifat tanaman adas yang hanya dapat tumbuh di daerah dataran tinggi inilah yang menyebabkan kekurangan tanaman ades pada segi bahan baku.

2.3 Gagasan Yang Diajukan
Untuk mengurangi efek samping dari bahan kimia tersebut, maka perlu dikembangkan obat-obat pengusir atau pembunuh nyamuk dari bahan yang terdapat di alam yang lebih aman untuk manusia serta sumbernya tersedia dalam jumlah yang besar. Pemanfaatan insektisida alami dalam pemberantasan vektor diharapkan mampu menurunkan kasus DBD. Selain itu karena terbuat dari bahan alami, maka diharapkan insektisida jenis ini akan lebih mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.
Ada beberapa pertimbangan kami dalam memilih kulit jeruk bali adalah faktor tersedianya bahan, jeruk tersedia terus menerus tanpa mengenal musim ditambah lagi efisiensi tanaman jeruk pada masalah bibit dimana dalam sebiji jeruk apabila ditanam akan tumbuh lebih dari 1 tanaman (Agrimas, 2007).
Pada kulit jeruk terdapat minyak atsiri yang antara lain memiliki kandungan limone (95%), myrcene (2%), noctanal (1%), pinene (0,4%), linanol (0,3%), decanal (0,3%), sabiene (0,2%), geranial (0,1%), neral (0,1%), dodecanal (0,1%), dan sitronela (0,5%) (Adityo Kurniawan, 2008). Sitronela berguna sebagai anti nyamuk dan aroma menyengat minyak atsiri yang tidak disukai nyamuk tetapi bagi manusia aromanya sangatlah harum. Selain kandungan yang tersebut di atas juga terdapat bahan seperti lonanol yang memiliki fungsi sebagai penenang syaraf-syaraf dalam tubuh.
Serai adalah tanaman herbal menahun dengan tinggi 50-100 cm dengan panjang daunnya mencapai 1 m dan lebar 1,5 cm. Tanaman serai tumbuh berumpun sehingga tersedia melimpah. Serai dapat tumbuh di tempat yang kurang subur bahkan di tempat yang tandus karena mampu beradaptasi secara baik dengan lingkungannya serta tidak memerlukan perawatan khusus baik waktu dan cara pemupukan. Keunggulan lain dari tanaman serai adalah termasuk tanaman abadi yang artinya penanaman hanya dilakukan sekali dan akan tumbuh terus menerus setiap tahunnya. Selain itu, penyimpanan serai memiliki daya tahan yang cukup bagus karena memiliki sifat antibakteri dan antijamur (dapat mengurai anti oksidan dan demam) sehingga dapat bertahan selama 3 minggu bila disimpan dalam lemari es dan bila dibekukan dapat bertahan selama 6 bulan. Sebuah penelitian dari The Science and Technology Department’s Food and Nutrition Research Institute telah menentukan bahwa serai memiliki manfaat antioksidan yang dapat membantu mencegah kanker, selain itu juga sebagai obat efektif untuk infeksi pada mata. Selain itu kandungan serai yaitu hidroksi citronelal, geraniol asetat dan menthol sintetik digunakan dalam industri wangi wangian hal ini karena wangi serai dapat mengurai stress dan insomnia (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2007).
Kandungan dari serai terutama minyak atsiri dengan komponen sitronelal 32-45%, geraniol 12-18%, sitronelol 11-15%, geraniol asetat 3-8%, sitronelil asetat 2-4%, sitral, kavikol, eugenol, elemol, kadinol, kadinen, vanilin, limonen, kamfen (Andria, 2000). Hasil penyulingan dari serai itu sendiri dapat diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum citronellae, terutama terdiri atas geraniol dan sitronelal yang dapat digunakan untuk menghalau nyamuk (Haris, 1994) Sitronelol dan geraniol merupakan bahan aktif yang tidak disukai dan sangat dihindari serangga, termasuk nyamuk sehingga penggunaan bahan-bahan ini sangat bermanfaat sebagai bahan pengusir nyamuk (Kardiyan, 2003). ). Abu dari daun dan tangkai serai mengandung 45% silika yang merupakan penyebab desikasi (keluarnya cairan tubuh secara terus menerus) pada kulit serangga sehingga serangga akan mati kekeringan karena sifat kepekaan tubuhnya terhadap ekstrak serai yang terdapat pada obat nyamuk elektrik.
Dengan melihat kondisi miris tentang pemakaian insektisida buatan yang berbahaya, penulis mengajukan gagasan tertulis tentang pembuatan mat obat nyamuk elektrik berbahan dasar kulit jeruk bali dan serai. Dari segi komposisi bahan sangatlah aman, dimana dari bahan dasarnya itu sendiri memiliki kandungan sitronela, minyak atsiri, dan limonen yang berfungsi sebagai anti serangga yang berbau wangi sehingga aman dan nyaman jika digunakan. Dari segi ekonomi, untuk bahan kulit jeruk bali dan serai masih terjangkau dan tergolong murah. Dari segi lingkungan, mat obat nyamuk elektrik ini dapat menekan angka sampah kulit jeruk, memanfaatkannya agar tidak terbuang percuma dan meningkatkan nilai ekonominya.
2.4  Implementasi Gagasan
Adapun bahan baku dari pembuatan mat elektrik ini yaitu kulit jeruk bali dan serai dengan skema kerja sebagai berikut :
Pemotongan → Penimbangan (100g) → Alkohol 70% (15 ml) → Aquadest (75 ml) → Solutiogummi arabicum (10 ml) → Penghalusan dengan blender → Pencetakan dan pengeringan (1-3 jam) → Pengemasan mat obat nyamuk elektrik.
Adapun proses pengemasan produk ini menggunakan hand sealer. Dengan hand sealer, produk yang dihasilkan kuat dan rata, dengan menggunakan sistem pemanas induksi sehingga hasilnya cepat dan rata, tidak menimbulkan panas terhadap operatornya. Panas hand sealer diatur dengan skala 1 – 9, dilengkapi dengan lampu led yang menyala selama proses sealer berlangsung dan akan otomatis mati yang menandakan proses sealer sudah selesai.

KESIMPULAN
Melihat angka ketergantungan masyarakat akan insektisida non alami dan berbahan zat aktif tinggi, penulis mengajukan gagasan tertulis tentang pembuatan mat obat nyamuk elektrik berbahan dasar kulit jeruk bali dan serai. Adapun pertimbangan penulis memilih bahan dasar tersebut dikarenakan keunggulan kulit jeruk bali dan serai adalah pada kandungan sitronela yang berguna sebagai anti nyamuk dan aroma menyengat minyak atsiri yang tidak disukai nyamuk tetapi bagi manusia aromanya sangatlah harum. Selain kandungan yang tersebut di atas, juga terdapat bahan seperti lonalol yang memiliki fungsi sebagai penenang syaraf-syaraf dalam tubuh. Sedangkan kandungan dalam serai adalah geraniol sebagai anti nyamuk. Kemudian abu dari serai itu sendiri mengandung silika yang mengakibatkan serangga mengalami desikasi (keluarnya cairan tubuh secara terus menerus) Bahan-bahan dasar tersebut dapat diperoleh langsung dari alam.

Studi Kasus Pencemaran Laut

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada mulanya orang berfikir bahwa dengan melihat luasnya lautan, maka semua hasil buangan sampah dan sisa-sisa industri yang berasal dari aktifitas manusia di daratan seluruhnya dapat di tampung oleh lautan tanpa menimbulkan suatu akibat yang membahayakan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam lautan akan diencerkan dan kekuatan mencemarnya secara perlahan-lahan akan diperlemah sehingga membuat mereka menjadi tidak berbahaya. Dengan makin cepatnya pertumbuhan penduduk dunia dan makin meningkatnya lingkungan industri mengakibatkan makin banyak bahan-bahan yang bersifat racun yang dibuang ke laut dalam jumlah yang sulit untuk dapat dikontrol secara tepat.
Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, di mana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lain-lain).
Kemudian, polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton. Fitoplankton adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan. Kemudian fitoplankton dimakan zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton karena zooplankton memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan zooplankton dimakan oleh ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores dimangsa oleh ikan karnivores (pemakan ikan atau hewan) sebagai tropik level ketiga, selanjutnya dimangsa oleh ikan predator sebagai tropik level tertinggi.
Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan dalam tubuhnya paling tinggi di antara seluruh organisme laut. Kerang juga mengandung logam berat yang tinggi karena cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan. Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi konsentrasi yang di air.
Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Makanan yang berasal dari daerah tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang tinggi.
Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam berat. WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO (Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang menyebabkan kematian.
Pencemaran laut merupakan suatu ancaman yang benar-benar harus ditangani secara sungguh-sungguh. Untuk itu, kita perlu mengetahui apa itu pencemaran laut, bagaimana terjadinya pencemaran laut, serta apa yang solusi yang tepat untuk menangani pencemaran laut tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah studi kasus pencemaran laut ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan pencemaran laut?
2.      Apa yang menjadi sumber dan bahan pencemaran laut?
3.      Apa saja dampak dari pencemaran laut?
4.      Apa saja kasus Pencemaran Laut yang pernah terjadi di Indonesia dan di dunia?
5.      Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran laut dan kebijakan untuk menangani perihal tersebut?
1.3  Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah studi kasus pencemaran laut ini yaitu untuk mengetahui semua informasi tentang pencemaran laut mulai dari definisinya, sumber, serta bahan-bahan yang mencemari laut, dampak pencemaran laut, cara penanggulangan dan kebijakan yang diterapkan untuk mengatasi perihal pencemaran laut serta kasus-kasus pencemaran laut yang pernah terjadi di Indonesia dan di dunia?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pencemaran Laut
Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.
Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk partikel kecil yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar, yang sebagian besar adalah pengurai ataupun filter feeder (menyaring air). Dengan cara ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai makanan, semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin besar pula kadar racun yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari partikel kimiawi ini bereaksi dengan oksigen, menyebabkan perairan menjadi anoxic. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup angin, terhanyut maupun melalui tumpahan.

2.2 Penyebab Pencemaran Laut
2.2.1 Pencemaran Oleh Minyak
Saat ini industri minyak dunia telah berkembang pesat, sehingga kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan tercecernya minyak dilautan hampir tidak bisa dielakkan. Kapal tanker mengangkut minyak mentah dalam jumlah besar tiap tahun. Apabila terjadi pencemaran miyak dilautan, ini akan mengakibatkan minyak mengapung diatas permukaan laut yang akhirnya terbawa arus dan terbawa ke pantai.
Contoh kecelakaan kapal yang pernah terjadi :
a.    Torrey canyon dilepas pantai Inggris 1967mengakibatkan 100.000 burung mati
b.    Showa maru di selat Malaka pada tahun 1975
c.    Amoco Cadiz di lepas pantai Perancis 1978
            Pencemaran minyak mempunyai pengaruh luas terhadap hewan dan tumbuh tumbuhan yang hidup disuatu daerah. Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup minyak. Untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum minyak dan mencemari diri sendiri. Selain itu, mangrove dan daerah air payau juga rusak. Mikroorganisme yang terkena pencemaran akan segera menghancurkan ikatan organik minyak, sehingga banyak daerah pantai yang terkena ceceran minyak secara berat telah bersih kembali hanya dalam waktu 1 atau 2 tahun.

2.2.2 Pencemaran Oleh Logam Berat
Logam berat ialah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram atau lebih untuk setiap cm3, sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5 gram adalah logam ringan.
Logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni), merupakan salah satu bentuk materi anorganik yang sering menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius pada perairan. Penyebab terjadinya pencemaran logam berat pada perairan biasanya berasal dari masukan air yang terkontaminasi oleh limbah buangan industri dan pertambangan.
Jenis-Jenis Industri Pembuang Limbah yang Mengandung Logam Berat:
Kertas                         : Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Petro-chemical           : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pengelantang              : Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pupuk                         : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Kilang minyak           : Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn
Baja                            : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn
Logam bukan besi      : Cr, Cu, Hg, Pb, Zn
Kendaraan bermotor  : Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn
Semen, keramik         : Cr
Tekstil                        : Cr
Industri kulit              : Cr
Pembangkit listrik tenaga uap : Cr, Zn
Logam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm3 dan logam berat bersifat tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat semakin terakumulasi di dalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air dapat masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Logam berat di dalam air dapat masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia apabila air yang mengandung logam berat diminum, sedangkan secara tidak langsung apabila memakan bahan makanan yang berasal dari air tersebut. Di dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap kesehatan.
A.    Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Indonesia
Teluk Buyat, terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, adalah lokasi pembuangan limbah tailing (lumpur sisa penghancuran batu tambang) milik PT. Newmont Minahasa Raya (NMR). Sejak tahun 1996, perusahaan asal Denver, AS, tersebut membuang sebanyak 2.000 ton limbah tailing ke dasar perairan Teluk Buyat setiap harinya. Sejumlah ikan ditemui memiliki benjolan semacam tumor dan mengandung cairan kental berwarna hitam dan lendir berwarna kuning keemasan. Fenomena serupa ditemukan pula pada sejumlah penduduk Buyat, dimana mereka memiliki benjol-benjol di leher, payudara, betis, pergelangan, pantat dan kepala.
B.     Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Jepang
Kasus minamata yang terjadi dari tahun 1953 sampai 1975 telah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia akibat pencemaran mercury di Teluk Minamata Jepang. Industri Kimia Chisso menggunakan mercury khlorida (HgCl2) sebagai katalisator dalam memproduksi acetaldehyde sintesis di mana setiap memproduksi satu ton acetaldehyde menghasilkan limbah antara 30-100 gr mercury dalam bentuk methyl mercury (CH3Hg) yang dibuang ke laut Teluk Minamata.
Methyl mercury ini masuk ke dalam tubuh organisme laut baik secara langsung dari air maupun mengikuti rantai makanan. Kemudian mencapai konsentrasi yang tinggi pada daging kerang-kerangan, crustacea dan ikan yang merupakan konsumsi sehari-hari bagi masyarakat Minamata. Konsentrasi atau kandungan mercury dalam rambut beberapa pasien di rumah sakit Minamata mencapai lebih 500 ppm. Masyarakat Minamata yang mengonsumsi makanan laut yang tercemar tersebut dalam jumlah banyak telah terserang penyakit syaraf, lumpuh, kehilangan indera perasa dan bahkan banyak yang meninggal dunia.
2.2.3 Pencemaran Oleh Sampah
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik,  sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II.  Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton.
Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan.
Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala  sangat membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.
Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan zat-zat makanan pada suatu daerah  yang tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.
2.2.4 Pencemaran Oleh Pestisida
Kerusakan yang disebabkan oleh pestisida adalah bersifat akumulatif. Mereka sengaja ditebarkan ke dalam suatu lingkungan dengan tujuan untuk mengontrol hama tanaman atau organism-organisme lain yang tidak diinginkan. Idealnya pestisida ini harus mempunyai spesifikasi yang tinggi yaitu dapat membunuh organism-organisme yang tidak dikehendaki tanpa merusak hewan lainnya, tetapi pada kenyataannya pestisida bisa membunuh biota air yang ada di laut.
Beberapa pestisida yang dipakai kebanyakan berasal dari suatu grup bahan kimia yang disebut Organochloride. DDT termasuk dalam grup ini. Pestisida jenis ini termasuk golongan yang mempunyai ikatan molekul yang sangat kuat dimana molekul-molekul ini kemungkinan dapat bertahan di alam sampai beberapa tahun sejak mereka mulai dipergunakan. Hal itu sangat berbahaya karena dengan digunakannya golongan ini secara terus menerus akan membuat mereka menumpuk di lingkungan dan akhirnya mencapai suatu tingkatan yang tidak dapat ditolerir lagi dan berbahaya bagi organism yang hidup didaerah tersebut.
Hewan biasanya menyimpan organochloride di dalam tubuh mereka. Beberapa organisme air termasuk ikan dan udang ternyata menumpuk bahan kimia didalam jaringan tubuhnya.
Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke dalam jaring makanan di laut. Dalam jarring makanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut , seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia.
2.2.5 Pencemaran akibat proses Eutrofikasi
Peristiwa Eutrofikasi adalah kejadian peningkatan/pengkayaan nutrisi, biasanya senyawa yang mengandung nitrogen atau fosfor, dalam ekosistem. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan produktivitas primer (ditandai peningkatan pertumbuhan tanaman yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk). Efek lebih lanjut termasuk penurunan kadar oksigen, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme lain.
            Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi.  Nutrisi ini kemudian dibawa oleh air hujan masuk ke lingkungan laut , dan cendrung menumpuk di muara.
            The World Resources Institute telah mengidentifikasi 375 hipoksia (kekurangan oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia. Laporan ini menyebutkan kejadian ini terkonsentrasi di wilayah pesisir di Eropa Barat, Timur dan pantai Selatan Amerika Serikat, dan Asia Timur, terutama di Jepang. Salah satu contohnya adalah meningkatnya alga merah (red tide) secara signifikan yang membunuh ikan dan mamalia laut serta menyebabkan masalah pernapasan pada manusia dan beberapa hewan domestik. Umumnya terjadi saat organisme mendekati ke arah pantai.
2.2.6 Pencemaran akibat peningkatan keasaman
Dewasa ini sangat banyak kegiatan manusia yang menyebabkan polusi udara, tanah dan air, yang disebabkan oleh limbah pabrik, industri, asap kendaraan, dan banyak lagi. Salah satu contoh adalah semakin banyak karbon dioksida memasuki atmosfer bumi, maka karbondioksida yang kita hasilkan sehari-hari dapat menyebabkan hujan asam dan juga meningkatkan kadar keasaman laut menjadi lebih asam. Potensi peningkatan keasaman laut dapat mempengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang lainnya untuk membentuk cangkang atau rangka. Perubahan iklim juga akan berdampak buruk pada ekosistem di lautan . Jika air laut semakin memanas, maka akan terjadi peningkatan keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan menghadapi peningkatan keasaman ini .
Menurut Dr. Nerilie Abrahams dari Universitas Nasional Australia, terumbu karang seperti sedang mencatat kematiannya sendiri. Jumlah Karbon Dioksida yang dipompakan ke atmosfer sebetulnya mengubah keasaman laut, dan membuat lebih asam lagi. Bahayanya adalah tentu saja seluruh terumbu karang akan hancur dan larut karena asam tadi. Persoalan perubahan suhu maupun berbagai perubahan lain yang dialami lautan sebetulnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di masa lalu hal ini sudah barangkali terjadi, nemun perbedaannya adalah saat ini perubahan suhu tersebut dipicu oleh campur tangan manusia, jadi bukan karena sebab alami.
2.2.7 Pencemaran akibat polusi kebisingan
Kehidupan laut dapat rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara dari sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan frekuensi sonar angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di udara. Hewan laut, seperti paus, cenderung memiliki penglihatan lemah, dan hidup di dunia yang sebagian besar ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup lebih dalam di dunia kegelapan. Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien kebisingan di laut naik sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat). Sumber suara dilaut antara lain :
1.      Sumber Alami
Suara di laut yang timbul akibat proses alami terbagi dalam dua yaitu proses fisika serta proses biologi. Proses fisika ini antara lain : aktivitas tektonik, gunung api dan gempa bumi, angin, gelombang. Sedangkan contoh dari aktivitas biologis misalnya suara dari mamalia laut dan ikan.
2.      Lalu Lintas Kapal
  Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut menimbulkan kebisingan yang berpengaruh pada ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara 1000Hz. Kapal-kapal Tanker Besar yang beroperasi mengangkut minyak biasanya mengeluarkan suara dengan level 190 desibel atau sekitar 500Hz. Sedangkan untuk ukuran kapal yang lebih kecil biasanya hanya menimbulkan gelombang suara sekitar 160-170 desibel. Kapal-kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual yang disebut “white noise” yang memiliki kebisingan konstan. White noise dapat menghalangi komunikasi antara mamalia di laut sampai batas untuk area yang lebih kecil. Selain kapal Tanker juga Kapal-kapal besar lainnya sejenis Cargo yang membawa petikemas memiliki kebisingan yang cukup menimbulkan pencemaran suara di laut.
3.      Eksplorasi dan Ekspoitasi Gas dan Minyak
Kegiatan eksplorasi dan ekspoitasi gas dan minyak banyak menggunakan survei seismik, pembangunan anjungan minyak/rig, pengeboran minyak, dll. Kebanyakan dari survei seismik saat ini menggunakan airguns sebagai sumber suara, alat ini merupakan alat berisi udara yang memproduksi sinyal akustik dengan cepat mengeluarkan udara terkompresi ke dalam kolom air. Metoda tersebut dapat menciptakan suara dengan intensitas sampai dengan 255 desibel. Pengaruhnya terhadap hewan lainnya juga dapat menimbulkan kerusakan pendengaran akibat dari tekanan air yang ditimbulkan. Seperti layaknya penggunaan dinamit, airguns juga berpengaruh terhadap pendengaran manusia secara langsung. Pulsa sinyal akustik ini dapat menimbulkan konflik terhadap mamalia laut, seperti misalnya paus jenis mysticete, sperm, dan beaked yang menggunakan frekuensi suara yang rendah.
Begitu juga dalam aktivitas pembangunan rig dan pengeboran minyak dimana dalam operasionalnya setiap hari banyak menghasilkan suara serta menimbulkan kebisingan yang beresiko bagi mamalia laut.
4.      Penelitian Oseanografi dan Perikanan
Pernah diadakan survei dengan menggunakan Acoustic Thermography of Ocean Climate (ATOC) dimana digunakan kanal suara untuk memperlihatkan rata-rata temperatur laut. Sistem ini digunakan untuk penelitian mengenai faktor temperatur laut. Akibatnya terhadap hewan-hewan di laut terbukti bahwa mereka bergerak menjauh (terutama Paus jenis tertentu) namun selang beberapa saat mereka kembali untuk mencari makanan. Deruman dari Speaker yang dipasang berkekuatan 220 desibel tepat di sumbernya, dan terdeteksi sampai dengan 11000 mil jauhnya.
Dari penyebab diatas terdapat juga penyebab lainnya yang tidak disebutkan di sini, salah satunya adalah kegiatan perikanan para nelayan yang menggunakan peledak atau pukat harimau yang tidak hanya menimbulkan polusi suara namun juga merusak secara langsung ekosistem di laut itu sendiri.
5.      Kegiatan Militer
Ada beberapa aktivitas yang dilakukan militer yang menghasilkan sumber suara yang menimbulkan kebisingan di laut. Salah satu contohnya yaitu aktivitas kapal naval milik US.Army yang menggunakan sonar aktif ketika berlatih dan dalam aktivitas rutin. Angkatan Laut Amerika (NAVY) pernah mengembangkan suatu sistem yang dinamakan Low Frequency Active Sonnars (LFA) untuk keperluan militernya. Dalam penggunaannya, terbukti bahwa terdapat beberapa efek negatif terhadap kehidupan dan perilaku mamalia di lautan. Terhadap ikan paus efek tersebut ternyata mengganggu jalur migrasi dan untuk jenis ikan paus biru dan ikan paus sirip adalah terhentinya proses komunikasi satu sama lain. Bahkan setelah melalui beberapa penelitian, maka pengunaan LFA tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Beberapa penyelam NAVY yang menerima transmisi dari sekitar 160 desibel akibat sistem tersebut terbukti terkena gangguan seperti vertigo, gangguan terhadap gerakan tubuh serta gangguan di daerah perut dan dada.
Bukti-bukti lainnya dari pengaruh akibat sonar yang dihasilkan ini di sebutkan oleh Vonk and Martin (1989), Simmonds and Lopez-Jurado (1991), Frantzis (1998) dan Frantzis and Cebrian (1999) mereka menganggap bunyi keras yang ditimbulkan oleh aktifitas militer ini telah menyebabkan terdamparnya paus jenis beaked di Pulau Canary dan Laut Ionia. Selain itu paus jenis sperm mengalami perubahan kelakuan dalam vokalisasi dalam merespons sonar ini.
Pendamparan lainnya terjadi pada bulan maret 2000 di Bahama, 17 mamalia laut( termasuk 2 spesies paus jenis beaked dan minke). Pendamparan ini terjadi akibat latihan militer Amerika yang menggunakan sonar.

2.3  Dampak Pencemaran Laut
2.3.1  Logam Berat
WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan FAO (Food Agriculture Organization) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi makanan laut (seafood) yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensil dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang menyebabkan kematian. Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh logam berat di dalam tubuh manusia :
·         Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur ruang. Jangka panjang, menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya sistem syaraf.
·         Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika terhirup dari udara atau uap. Dapat menyebabkan kanker. Larutan dari kadmium sangat beracun. Jangka panjang, terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid, dicurigai dapat menyebabkan hipertensi
·         Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif pada jaringan tubuh. Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan pada ginjal
·         Timbal (Pb): Beracun jika termakan atau terhirup dari udara atau uap. Jangka panjang, menyebabkan kerusakan otak dan ginjal; kelainan pada kelahiran
·         Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap. Jangka panjang, beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran.
·         Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada kulit, mata dan membran mukosa (mucus)

2.3.2 Tumpahan minyak
Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup minyak. Untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka banyak minum minyak dan mencemari diri sendiri serta dapat menyebabkan keracunan pada burung tersebut.
2.3.3 Sampah
  Banyak hewan yang hidup pada atau di laut mengonsumsi plastik karena tak jarang plastik yang terdapat di laut akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastik tidak dapat dicerna dan akan terus berada pada organ pencernaan hewan ini, sehingga menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian melalui kelaparan atau infeksi. Selain berpengaruh terhadap kesehatan biota laut, adanya sampah dilaut juga nerpengaruh terhadap kesehatan manusia. Penyakit yang paling sederhana seperti gatal-gatal pada kulit setelah bersentuhan dengan air laut, dll.

2.3.4 Pestisida
  Pengaruh pestisida terhadap kehidupan organisme air :
·         Penumpukan pestisida dalam jaringan tubuh, bersifat racun dan dapat mempengaruhi system syaraf pusat.
·         Bahan aktifnya selain bisa membunuh organism perairan (ikan) juga dapat merubah tingkah laku ikan dan menghambat perkembangan telur moluska dan juga ikan.
·         Daya racun berkisar dari rendah-tinggi. Moluska cenderung lebih toleran terhadap racun pestisida dibandingkan dengan Crustacea dan teleostei (ikan bertulang sejati), dll.
2.3.5 Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah perairan menjadi terlalu subur sehingga terjadi ledakan jumlah alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk fotosintesis. Karena terlalu banyak maka alga dan fitoplankton di bagian bawah akan mengalami kematian secara massal,  serta terjadi kompetisi dalam mengonsumsi O2 karena terlalu banyak organisme pada tempat tersebut. Sisa respirasi menghasilkan banyak CO2 sehingga kondisi perairan menjadi anoxic dan menyebabkan kematian massal pada hewan-hewan di perairan tersebut.
2.3.6 Peningkatan keasaman
Selain menyebabkan kerusakan pada terumbu karang, kehidupan laut terpengaruh karena perubahan itu, khususnya hewan dan tumbuhan yang memiliki tulang karbonat kalsium dan yang menjadi sumber makanan bagi penghuni laut lainnya. Satu miliar orang yang bergantung pada ikan sebagai sumber utama penghasil protein akan terkena dampak dari peningkatan keasama laut tersebut.
2.3.7 Polusi kebisingan
Gangguan bunyi-bunyi dapat saja menghasilkan frekuensi atau intensitas yang dapat berbentrokan atau bahkan menghalangi suara/bunyi biologi yang penting, yang menjadikan tidak terdeteksi oleh mamalia laut. Padahal seperti diketahui bahwa suara-suara biologi ini penting seperti untuk mencari mangsa, navigasi, komunikasi antara ibu dan anak, untuk manarik perhatian, atau melemahkan mangsa.

2.4  Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Laut
Upaya pencegahan maupun penanggulangan pemcemaran laut telah diatur oleh pemerintah dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT :
2.4.1  Pencegahan Terjadinya Pencemaran Laut
Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah pencemaran laut :
·      Tidak membuang sampah ke laut
·      Penggunaan pestisida secukupnya
·      Yang paling sering di temukan pada saat pembersihan pantai dan laut adalah puntung rokok. Selalu biasakan untuk tidak membuang puntung rokok di sekitar laut.
·      Kurangi penggunaan plastik
·      Jangan tinggalkan tali pancing, jala atau sisa sampah dari kegiatan memancing di laut.
·      Setiap industri atau pabrik menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)
·      Menggunakan pertambangan ramah lingkungan, yaitu pertambangan tertutup.
·      Pendaurulangan sampah organik
·      Tidak menggunakan deterjen fosfat, karena senyawa fosfat merupakan makanan bagi tanaman air seperti enceng gondok yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.
·      Penegakan hukum serta pembenahan kebijakan pemerintah
2.4.2  Penanggulangan Pencemaran Laut
Berikut adalah beberapa cara penanggulangan terjadinya pencemaran laut :
·      Melakukan proses bioremediasi, diantaranya melepaskan serangga untu menetralisir  pencemaran laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak dari ledakan ladang minyak.
·      Fitoremediasi dengan menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap logam berat juga ditempuh. Salah satu tumbuhan yang digunakan tersebut adalah pohon api-api (Avicennia marina). Pohon Api-api memiliki kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi.
·      Melakukan pembersihan laut secara berkala dengan melibatkan peran serta masyarakat
Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat pencemaran laut diantaranya adalah :
§  Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya laut bagi   kehidupan.
§  Menggalakkan kampanye untuk senantiasa menjaga dan melestarikan laut beserta isinya.
§  Tidak membuang sampah ke sungai yang bermuara ke laut.
§  Tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti bom, racun, pukat harimau, dan lain-lain yang mengakibatkan rusaknya ekosistem laut.
§  Tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan limbah produksi pabrik yang akan mencemari laut.

BAB III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari makalah studi kasus pencemaran laut ini adalah sebagai berikut
1.        Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.
2.        Penyebab pencemaran laut yaitu :
Ø  Pencemaran oleh minyak
Ø  Pencemaran oleh logam berat
Ø  Pencemaran oleh sampah
Ø  Pencemaran oleh pestisida
Ø  Pencemaran akibat proses Eutrofikasi
Ø  Pencemaran akibat peningkatan keasaman
Ø  Pencemaran akibat polusi kebisingan
3.        Contoh kasus pencemaran akibat logam berat di Indonesia yaitu di Teluk Buyat, terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, adalah lokasi pembuangan limbah tailing (lumpur sisa penghancuran batu tambang) milik PT. Newmont Minahasa Raya (NMR).
4.        Upaya pencegahan maupun penanggulangan pemcemaran laut telah diatur oleh pemerintah dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

DAFTAR PUSTAKA

Ahmar, Hilal. 2013. Bahan-bahan Pencemaran Laut. http://majalah-hilalahmarsolo.blogspot.com/2013/03/sehat-lingkungan-bahan-bahan-pencemar.html. diakses pada 15 Maret 2014.
Massa. 2011. Sumber-sumber pencemaran di laut. http://massal2003.wordpress.com/2011/10/22/sumber-sumber-pencemaran-laut-sources-of-marine-pollution/. diakses pada 15 Maret 2014.
Nurul, Agus K. 2013. Dampak Pencemaran Laut. http://agusnurul.blogspot.com/2011/02/marine-pollution-pencemaran-laut-tugas.html. pada tanggal 15 Maret 2014.
Rahim S.W., 1998.  Kajian Distribusi Cemaran Minyak di Sekitar Pelabuhan Pertamina Ujung Pandang.  Skripsi Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Romimohtarto, 1991.  Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauannya.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.   
Saparinto, C., 2002.  Rabuk Kimia Atasi Cemaran Minyak di Laut.http://www.suaramerdeka.com,  diakses pada tanggal 15 Maret 2014.

Suwito, Vivien Anjadi. 2013. Sumber-sumber pencemaran di laut. http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/pencemaran-pesisir-dan-laut.html. diakses pada 15 Maret 2014.